Halo, Ini tanggal 18 Oktober 2025 4 tahun lalu, di bulan ini juga Aku ketemu seseorang yang selama ini aku cari-cari keberadaannya, kabarnya, dan segala sesuatu kenapa dia tiba tiba membawa perasaan senang kemudian seolah olah lenyap begitu saja dalam hitungan hari Tahun ini, hubungan kami memasuki tahun ke empat Empat tahun, tidak mudah bagi kami kalau boleh dikata Tetapi disini akan aku tuliskan berdasarkan sudut pandangku mengenai hal hal apa saja yang aku pelajari dan dapatkan dari empat tahun kami bersama: 1. Bahwa ternyata perasaan berlebihan itu adalah sesuatu yang salah, semua harus sesuai porsinya, harus seimbang keduanya, harus setimpal dengan apa yang diberi dan didapatkan 2. Ego kami berdua sama sama tinggi, kami sama sama keras kepala dan tidak mau mengalah, tetapi seiring berjalannya waktu itu, ternyata memang benar adanya yang bisa merubahnya bukan pasangan, tetapi diri kita sendiri 3. Cinta sudah bukan lagi perihal sesuatu yang bisa membuat hati senang, kupu...
Akhirnya setelah hujan badai, jatuh bangun, tersungkur bangkit lagi, senang sedih, bahagia kecewa, dan segala perasaan ataupun kondisi yang silih berganti di hubungan kami yang tahun ini akan menginjakkan usia yang ke lima tahun Sampailah kami di sebuah anak tangga yang kurasakan lebih kokoh lagi dari sebelumnya Sampailah kami pada tanggal 25 Maret 2026, dimana ini adalah kali pertama ia datang ke rumahku masuk lewat pagar hijau samping rumah itu dan bersalaman dengan ayahku Rasanya apa ya... Rasanya detik ini bahkan masih seperti sebuah mimpi, masih seperti sebuah angan dan rencana kami saja yg baru ada di dalam kepala untuk akhirnya memutuskan jalan berdua dengan izin ayahku Dan ternyata kami sudah melakukan rencana itu 5 hari lalu Rasanya senang sekaligus terharu, senang karena pada akhirnya keberanian mengantarkannya untuk datang kerumahku dengan memakai kemeja warna hitam dan celana jeans itu Keberanian telah menuntunnya untuk tiba di rumahku, berjabat tangan den...
Kita selalu merajut kenangan, tetapi soal kepergian ibuku aku letakkan ia di setiap saku pakaian maupun celana yang akan aku kenakan sepanjang waktu, aku letakkan di setiap tas ransel warna krem cokelat yang aku pakai ketika bepergian, aku simpan ia lekat lekat di dalam hatiku yang paling dalam, di relung jiwaku yang paling dasar. Aku ingat ingat betul bagaimana rasanya seolah dunia meredup, seolah satu satunya cahaya yang selama ini mendekapku dan menyelamatkanku dari lelah dan hiruk pikuk dunia telah padam dan kembali ke tempat ia berasal dengan keabadian. Maka dari itu, lewat tulisanku ini, aku sisipkan perasaan kangenku untuk ibu, aku sisipkan doa-doa agar senantiasa bisa membersamainya selalu. Pelan-pelan aku mengendap-endap dan memberanikan diri meraba kembali bagaimana hari hari itu telah berlalu, tetapi sampai detik inipun rasanya masih kalut, masih takut, masih pilu seolah-olah memang cahaya itu telah pudar dan habis waktunya, tetapi di dalam diriku ia selalu menyala dan menum...