merajut kenangan
Kita selalu merajut kenangan, tetapi soal kepergian ibuku aku letakkan ia di setiap saku pakaian maupun celana yang akan aku kenakan sepanjang waktu, aku letakkan di setiap tas ransel warna krem cokelat yang aku pakai ketika bepergian, aku simpan ia lekat lekat di dalam hatiku yang paling dalam, di relung jiwaku yang paling dasar. Aku ingat ingat betul bagaimana rasanya seolah dunia meredup, seolah satu satunya cahaya yang selama ini mendekapku dan menyelamatkanku dari lelah dan hiruk pikuk dunia telah padam dan kembali ke tempat ia berasal dengan keabadian.
Maka dari itu, lewat tulisanku ini, aku sisipkan perasaan kangenku untuk ibu, aku sisipkan doa-doa agar senantiasa bisa membersamainya selalu.
Pelan-pelan aku mengendap-endap dan memberanikan diri meraba kembali bagaimana hari hari itu telah berlalu, tetapi sampai detik inipun rasanya masih kalut, masih takut, masih pilu seolah-olah memang cahaya itu telah pudar dan habis waktunya, tetapi di dalam diriku ia selalu menyala dan menumbuhkan rindang pepohonan serta tanaman-tanaman segar di pekarangan rumah persis seperti kesukaan ibuku.
03/09/2025
-Tri Anisa K
