berpindah dan bertanya

kemacetan Jakarta sudah pindah ke tengah tengah kota
kamu ke Pinggir sebentar
me markirkan mobil yang penuh dengan banyak sekali serapah

perasaan adalah perayaan yang bisa dirayakan kapan saja
rasa
rasa ada banyak sekali
ada beberapa
ada sepasang
tidak terhingga dan saling terbatas jumlahnya

mereka berangkat menaiki motor tua
masih ingat betul,di samping rumahnya ada kedai kopi favorit semua orang
ingat juga belakang rumahnya 
adalah tanah lapang luas 
dengan rerumputan yang begitu segar

yang satu menilik dari balik jendela
menghela napasnya sebentar
lalu bertanya

“kapan aku pulang?”

waktu itu jam warna merah muda tepat di tangan kirinya
menunjukkan pukul empat
katanya tidak boleh lama lama
dia datang dan mampir sebentar
cuman untuk menitipkan salam salam dan sebuah surat

di suatu hari
di akhir tahun
pinggiran kota
jadi tempat yang dituju
jalan satu,
jalan yang lain
menunggu
lampu dan rambu rambu saling berubah warna
menjadi warna kebahagiaan

“apakah kamu akan mengingatku ?”
berbisik pelan di telinga kanannya

aku cuman akan mengajakmu menyaksikan matahari terbenam,
mengantarmu pulang
lalu kita akan selesai
seperti biasanya

“kamu akan kemana?”

ke tempat yang jauh
ke tempat yang tidak lagi boleh ada kamu 
ke tempat yang semua nya berlalu

“kamu akan kembali bukan?”

aku cuman akan melihatmu juga dari kejauhan
mungkin lain kali,di tempat yang lain,di perasaan yang lain
kita cuman bisa saling mendoakan

“apakah semua yang kita mulai akan kita biarkan terurai?”

biarkan dia menemanimu
biarkan dia jadi cabang yang saling menjalar ke segala penjuru
biar dia menjaga mu
biar dia menggantikan ku
sebagai satu satunya manusia yang akan kamu ingat bahkan sampai nomor ponsel kita saling hilang dan bergantian

kalau begitu aku titip salam untuk ayah ibumu
untuk semesta
untuk sofa sofa yang berdebu di ruang tamu
untuk kepergianmu yang akan semakin jauh

aku sampaikan
aku sampaikan beberapa yang akan aku bawa pulang ke rumahku
ke tujuan ku
yang sudah bukan kamu.



“setelah ini terjadi,kamu yakin, kamu bisa melewati?”

nggak tau, kelihatan curam
kelihatan terjal
tetapi aku akan menemukan diriku diantara
yang kamu tinggalkan

“kamu sendiri bagaimana?ga apa apa berangkat lagi sendirian? hati hati di jalan ya.”

“harusnya kamu yang bilang begitu ke dirimu”

“lalu?”

“ya sudah kita sama sama hati hati di jalan mulai sekarang”

Postingan populer dari blog ini

perihal bagaimana akhirnya kami saling mengerti

akhirnya kami ada di sini

merajut kenangan