bahwa yang namanya
bahwa yang namanya pulang,
kadang nggak kenal tujuan
kadang dia cuman mengira sesuatu nggak bisa tinggal,padahal nggak begitu
kadang mereka kira yang namanya sebuah jarak dan kesedihan adalah sesuatu yang berpasangan
tapi nyatanya memang benar
karena untuk sampai pada tempat yang pasti ada banyak orang itu buatku hal yang gak mudah
kayak
“kenapa harus ada orang lain lagi?”
“kenapa ramai sekali?”
“kapan kelarnya?”
“takut mereka memperhatikan”
“takut mereka berbicara yang menyakitkan”
“kenapa lama sekali?”
“kenapa harus gemetar dan keringat dingin?”
“kenapa justru terasa kesepian?”
selain keberangkatan akan meninggalkan kesedihan
keberangkatan juga akan begitu melelahkan
kalau kita pergi terlalu jauh
sampai lupa jalan pulang
ke arah mana
kiri atau kanan
utara atau selatan
timur atau barat
suatu hari mereka berangkat pagi pagi ke pantai-pantai terdekat
barangkali mencari ombak,kerang,bintang laut,duduk di gazebo tua,atau minum air kelapa
ya mereka berteduh dari sinar matahari yang mulai meninggi
mereka duduk dan saling diam saja
mereka cuman saling diam dan membisu
sama seperti pasir pantai yang tidak ubahnya sebuah ingatan dan butir-butir nya
lalu akankan mereka selesai?
bahkan mereka sudah tidak lagi ada dalam satu buku cerita yang sama?
bahkan mereka saling bersembunyi di sekat sekat lampu ibukota
lalu ketika mereka memutuskan selesai untuk sepanjang masa
sesuatu saling menghantam dan berhamburan mereka kencang dan begitu pesat
sampai tidak terlihat
sampai tidak terdengar
seperti balon anak kecil yang baru saja meledak di etalase kaca
lalu mereka juga akan saling tau
bahwa ternyata menunggu sesuatu
ga bisa terlalu buru buru
mereka juga akan saling tau
bahwa yang namanya saling meninggalkan cuman akan menyisakan sesuatu yang tidak pernah lagi terlihat meyakinkan.
jadi,untuk kita semua
terimakasih ya ,
karena sudah bersedia hidup lebih jauh sampai sekarang.